Suku Tengger

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Priesters_uit_het_Tengger_district_Oost-Java_TMnr_10001180Suku Tengger merupakan suku asli di kawasan Bromo Tengger Semeru. Suku ini adalah suku sub dari suku jawa sejak tahun 2010. Banyak masyarakatnya yang tinggal tersebar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Menurut tata bahasa dan kehidupan bermasyarakatnya, suku tengger tersebar di wilayah sekitar Probolinggo, Lumajang dan lebih tepatna di Ranupane Kecamatan Seduro, Malang atau lebih tepanya Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo, dan Pasuruan.

Kebudayaan suku ini sangat erat dengan kerajaan majapahit dahulu. Asal mula nama suku tengger ini yaitu Legenda Roro Anteng dan juga Joko Seger. Dan nama Tengger sendiri adalah singkatan dari nama mereka yaitu Teng- yang mana akhiran nama Roro Anteng dan Ger- akhiran nama Joko Segger. Tengger mempunya arti juga ” Tenggering Budi Luhur atau Pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian dunia “. Suku Tengger ini memiliki ikatan yang melekat dengan cerita Kerajaan Majapahit. Masyarakat suku tengger sudah ada sejak Agama Isalam masuk ke Indonesia. Dan saat itu juga banyak masalah yang bersinggungan dan mengakibatkan perang antara Islam dengan kerajaan kerajaan yang ada di jawa, termasuk Kerajaan Majapahit. Pada saat tersebut semua warganya bingung akan pergi kemana untuk berdiam dan melarikan diri. Lalu terbagilah 2 kubu, yang pertama masyarakat ini pergi ke Bali dan yang kedua melarikan diri ke Gunung Bromo. Maka dari itu kebudayaan dan agama suku tengger dengan masyarakat memiliki banyak kesamaan. Gunung Bromo merupakan gunung yang sangat dijaga oleh suku ini. Dalam kepercayaan mereka gunung Bromo merupakan gunung suci dan mereka menyebutnya dengan Gunung Brahma. Dan kemudian banyak masyarakat jawa menyebutnya dengan Gunung Bromo.

Terdapat legenda yang terdapat pada suku tenger ini tentang Roro Anteng dan Joko Seger. Legenda ini bermula saat terlahirlah seorang anak dari seorang Brahmana yang memiliki fisik yang sangat kuat dan juga tangisan yang begitu kencang pada saat pertama kali dilahirkan, dan diberi nama JOKO SEGER. Lalu diwaktu bersamaan lahir di sekitar Gunung Pananjakan seorang anak perempuan yang cantik jelita titisan para dewa. Pada saat dilahirkan bayi perempuan ini sangat tenang dan tak ada tangisan yang keluar dari mulutnya. Dinamakanlah dia RORO ANTENG. Singkat cerita pada saat telah dewasa mereka saling jatuh cinta. Mereka melalui kisah cinta yang sangat mengharukan dan banyak cobaan. Awalnya Rara Anteng di pinang dengan seorang bajak yang jahat dan sakti. Karena Rara Anteng memiliki sifat yang tenang dan halus, dia tidak bisa menolak pinangan sang bajak kejam tersebut. Kemudian Rara Anteng mengajukan syarat kepada bajak itu, yaitu dengan dibuatkannya lautan ditengah gunung dalam waktu satu malam. Karena kesaktiannya bajak tersebut pun menyanggupinya. Basak tersebut mengerjakan lautan ditengah gunung tersebut dengan menggunakan sebuah tempurung kelapa atau yang biasa disebut dengan Batok Kelapa dan pekerjaannnya cepat sekali selesai. Dan Rara Anteng pun mulai khawatir, dia memiliki ide untuk membuat seakan akan matahari sudah bangun dengan cara menumbuk padi dan dengan cara tersebut dapat membangunkan ayam jantan. Kemudian ayam ayam itu berkokok. Bajak pun kebingungan, tetapi dia menyadari jika sedang ditipu oleh Rara Anteng karena bila sudah fajar benang putih sebelah timur belum nampak. Geramlah si bajak dan membuang batok kelapa itu kedalam gunung. Dan jadilah sebuah gunung yang bernama Gunung Batok.

Dan akhirnya Rara Anteng pun dapat melanjutkan hubungannya dengan Joko Seger. Mereka menikah dan hidup bahagia. Tetapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena meraka belum juga dikaruniakan seorang anak. Maka dari itu Joko Seger bersemedi di puncak gunung meminta pada Tuhan Yang Maha Esa untuk dikaruniakan keturunan. Tiba-tiba terdengar suara dari alam lain yang berkata jika Rara Anteng dan Joko Seger akan dikaruniakan anak tetapi dengan syarat anak bungsu mereka harus dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo. Dan mereka pun menyetujuinya. Lalu Rara Anteng dan Joko Seger dikaruniakan 25 orang anak. Dan pada waktunya tiba Rara Anteng dan Joko Seger pun tak tega dan melanggar janjinya. Dewa sangat marah dan akan mendatangkan malapetaka yaitu terjadilah gelap dan gunung bromo menyemburkan api panasnya. Dan anak bungsu mereka terbawa oleh api sang Gunung Bromo. Setekah itu terdengarlah suara yang berkata bahwa Masyarakat yang berada di bawa keturunan Rara Anteng dan Jaka Tengger harus hidup rukun dan damai. Dan harus selalu menyembah Syah Hyang Widi. Dan setiap bulan kasada di hari ke-14 mereka harus menyerahkan sesaji berupa hasil bumi untuk dipersembahkan pada Syah Hyang Widi ke kawah Gunung Bromo. Dan upacara tersebut sampai sekarang disebut dengan Upacara Kasada.

Masyarakat suku Tengger menganut agama dan aturan Hindhu. Dan mereka memiliki upacara-adat-suku-Tengger-kompasmakna Tengger Ing Budi Luhur yaitu tempat tinggal orang-orang yang berbudi luhur. Mereka semua memiliki perasaan yang saling menghormati sesama saudara dan menjujung tinggi persaudaraan. Dan meyakini satu kerurunan yaitu keturunan Rara Anteng dan Joko Seger, maka dari itu mereka tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari hari. Tentang upacara keadatan suku tengger memiliki beberapa upacara adat yang wajib untuk dijalankan. Selain Kasada adapula Unan-unan, Leliwet, Entas-entas, Tugel Kunung yang diperuntukkan untuk laki laki dan Tugel Gombak untuk anak perempuan, Hari Raya Karo dan masih banyak lagi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *